Selasa, 08 Februari 2011

Keluarga Baru Arek-arek Kalipunten

Apa kabar ya kawan-kawan KKN Kalipunten? Apa kabar ya orang-orang yang membantu kegiatan KKN Penuntasan WAJAR DIKDAS 9 Tahun di Kalipuro? Apa kabar ya anak-anak giring KKN Penuntasan WAJAR DIKDAS 9 Tahun Kalipuro? Trus, apa kabar ya posko tercinta?!

Satu persatu arek KKN Kalipunten kembali ke habitatnya masing-masing. Ada juga beberapa yang merantau. Ada yang jadi guru, ada yang kuliah lagi, ada yang sudah menikah & memiliki anak, ada juga yang masih mencari cinta. Selepas KKN dan kembali ke rumah, jadi jarang berkomunikasi. Kangen kalian semua.... Apalagi kalau ingat masa-masa KKN yang tak selalu indah. Kadang kita tertawa bersama, menangis bersama, saling adu argumentasi, bahkan ada yang sampai cinta lokasi! There's so cute moments & kita sepakat untuk tidak ingin melupakan kenangan itu kan?

Oh ya, atas izin dari K Ayun dan Meita, inilah foto keluarga baru arek-arek Kalipunten. Cetta (baby-nya K Ayun) dan Cinta (baby-nya Meita). Yang lain kasih kabar ya....

Kamis, 26 Februari 2009

Reunion

Udah lama c sebenarnya mau menghubungi genk KKN. Mu kasih tau kalau aku buat blog yang menceritakan masa” KKN kami di Banyuwangi. Tapi berhubung isi blognya masih dikit, jadi nunggu udah banyakan. Banyak cerita yang terlupa c, apalagi aku tuh bukan orang yang suka nulis di diary. Pelupa pula! So, kisahnya gak kronologis dan gak detail ^.^v

Baru pas 23 Februari 2009 malam aku send alamat blogku ini ke mereka via SMS. Tanggapannya positif! Ka Ayun paginya SMS aku, send kalau dia udah baca blog Q.
“Aku sampai terharu. Serasa kembali ke Kalipuro. Miz u all girls,” begitu potongan SMSnya.
Siangnya Benk” yang SMS.
“So sweet.”
Dia bahkan meninggalkan coment panjang di salah satu postinganku. Menuturkan kisah awal mula keterdamparan kami di Kalipuro, salah satu kecamatan termiskin di Banyuwangi itu.

----------
“TO farin>>blogna, kalipunten-aluhlangkar.blogspot.com, suer Q terharu ampk gag tau mesti ksh koment apaan.Q serasa kmbali lg pada masa dmn qt hidup d dunia antah berantah y nmnya kalipuro. desa terpencil d ujung banyuwangi y mmberikan bnyak bgt kenangan, gk cm senyuman tp jg air mata tp jg peluh keringat y menemani perjalanan qt 2 bulan disana.

dtg bagai tamu tak diundang y mengemban tugas mulia memberantas anak2 y blum sekolah, membawa mrk agar merasakan bangku sekolah agar nantinya dpt merubah hdp mrk sendiri. dtg hanya berbekal jas almamater y bertuliskan KKN WAJAR UM ternyata gag ckp buat kami untk tahu apa y hrs qt perbuat saat itu. dari 20 orang tak satupun dr kami y tahu akan tmpt y saat itu qt injak. hanya KORCAM sbg ketua KKN ini y mengaku prnh dtg kesitu n itu terjadi saat dia msh TK.gila????trs skr apa y saat itu haru qt lakukan???

satu jam, dua jam bahkan sampai berjam jam kami hnya bs berdiam, pasrah. sedikit bs tersenyum akirnya bantuan itu dtg.

2 buah mobil dtg n membawa qt ke tempat penduduk asli situ y jarak tempuhnya sktr 20 km, jarak itu mgkin dkt kalo jalannya mulus, tp astaga.......senyum kami kmbali harus hilang ketika qt tahu perjalanan menuju ke tmpt org itu (namanya bpk mukawin). sepanjang jaln hanya hutan kopi, semak n dataran tinggi menjulang tanpa penerangan listrik satupun.tak arang, salah satu mbl yg kami tumpangi(Q ikut dlm mbl ini)hrs berhenti cz tak lagi mampu meneruskan perjalanan. mbl itu mengluarkan asap y mengepul entah knp y ad dipikran kami wkt itu adalah kuburan menunggu kita.

dg membawa barang2 ala TKW y mau berangkat kerja, qt hanya mampu duduk d tepi jalan smbl menunggu kalau2 da bantuan dtg. satu, dua orang lewat n tak mampu menolong qt krn mereka sendiri hanya berjalan, mrk hanya mmbrkn informasi kalo di daerah situ tak ada satupun y pnya kendaraan n kalo qt berharap ada truk y menolong qt itu hanya mimpi cz truk itu akan dtg 6 bln sekali yaitu saat panen kopi.mampus......itu pkiran seketikaku.

qt hrs menghubungi temen qt y lebih beruntung sdh bs nyampai di atas duluan,satu lagi maslah y qt hadapi ternyta signal disana blank.qt cm berharap tmn2 qt punya naluri y kuat buat menjemput qt, n tak lama kmdn bnr mobil satunya kmbali k bwh n mlht qt terlunta-lunta. akirnya qt semua bs dbw naek k atas mskpn hrs berkali2.(thanks buat mblnya pak camat).

akhirnya...sampailah qt pd rmh pak mukawin y sgt berbaik hat mau menampung kami dirahnya, pdl jmlh kami 20 orang. waow...sungguh pahlawan buat kita. sampai di situ satu persatu dr kita melepas lelah, berbaring n mandi. upppsss mandi???saat itulah kami baru sadar akan satu hal...pak mukawin n semua penduduk situ gag da yg punya tempat buang air besar. what????qt lagsung tesentak n kamipun gak da y berani makn lantaran tkt y namanya kebelet ke belakang.”
----------

Setiap kali SMS.an, bertemu, atau kontak via friendster, rasanya kami ingin berkumpul lagi. Reuni. Setelah KKN kami sempat bikin reunian c. Terakhir pas buber di warung bambu dekat ITN (foto” buber sama siapa? Jalu dunk!!). Tapi gak semua datang. Formasi posko bawah gak lengkap. Setelah semuanya pergi dari UM, kesempatan untuk bertemu pun semakin sulit karena kami tinggal di kota yang berlainan.

28 Maret ini aku, Dessy, Henny, Lilik, dan Nene akan wisuda (anak posko atas udah pada wisuda?!). Kami kloter ke-2 dari tim KKN Penuntasan Wajar Dikdas 9 tahun di Kecamatan Kalipuro yang lulus. Sebelumnya udah ada Ka Ayun, Bingar, Mitha, Vellyn, Mba Erna, …

Well, liburan semester ntar (Juli) Ka Ayun ngajakin reuni. Berkunjung ke Kalipuro lalu wisata kresek lagi ke Bali. Benk” menyatakan akan ikut serta c. Aku? Mupenk lah!! Tapi belum bisa memastikan. Soalnya aku kan belum kerja. Gak tau bulan Juli ntar free atau gak. Ada duit atau gak (back to Borneo niy…). Tapi semoga saja bisa ikutan. Kangen mu kumpul lagi nih. Mu ke Bali lagi. Ketawa bareng lagi.

Jumat, 20 Februari 2009

Bali, Bali, ke Bali yuk..!!

Sabtu, 14 Juli 2007, untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Pulau Dewata. Waktu itu aku pergi sama kawan” Geografi, izin dari KKN coz ada rapat koordinasi Ikatan Mahasiswa Geografi Regional Jawa Bagian Timur di Universitas Pendidikan Ganesha (UNDIKSA), Singaraja.

Sebulan kemudian aku bekpek-an lagi. Tepatnya 24 Agustus 2007. Masih ke Bali, tapi sama kawan-kawan KKN. Kami pergi berdelapan, cewek semua lagi! Kami niat banget ke Bali soalnya selama KKN kasarnya kami gak pernah refreshing kemana-mana (batal ke Ijen pula, hiks!!).

Kami pikir masak hampir setiap hari yang diliat pulaunya doank, padahal tinggal nyebrang. Terserah deh ke Bali naik apa, tidur di mana, dan ke mana aja. Yang penting bisa jalan-jalan di Bali! Habis nunggu terencana dan terorganisir kayaknya ribet banget. Dan itu pun ternyata bikin keributan di KKN-an. Kami baru dapat izin sehari sebelum balik ke Malang. Dengan kebersamaan, semangat 45, dan iringan lagu Kemesraan dan Lembayung Bali, kami pun travelling dengan riang. Bikin iri Mba Wowon, anak KKN WAJAR di Banyuwangi juga tapi beda kecamatan coz mereka gak ada acara kemana-mana after kerja keras selama lebih dari dua bulan.

Kami nyebrang nebeng salah satu feri (kapalnya bagus dan bersih). Kok nebeng?
Soalnya kami naik gratisan :p Kebetulan salah satu kawanku kenalan sama pemiliknya waktu cari dana buat seminar KKN kami. Nah, beliau nawarin kalau mau ke Bali hubungin aja biar bisa nyebrang gratisan, hHe... Kami pun akhirnya berlarian sampai diliatin orang-orang di pelabuhan karena waktu kami datang ferinya udah mau berangkat ^.^v

Di Gilimanuk, di pos pemeriksaan orang –orang yang mau masuk-keluar Bali, kawanku yang gak bisa liat polisi muda dikit aja (ayahnya polisi, mantan Co.nya juga) langsung sempatin kenalan sama para polisi yang jaga di sana. Tambah kenalan gitu deh. Hitung-hitung kalau kami kenapa-kenapa di sana ada orang yang bisa dikontak :)
Kami ke Denpasar naik bis. Berkat dia juga ongkos bis kami cuman 15 ribu (cowok-cowok dari Yogya yang satu bis sama kami cuman berhasil nawar sampai angka 18 ribu). Sepanjang perjalanan, namanya sekumpulan cewek, eror lagi! Pastilah rame. Cowok-cowok dari Yogya yang duduk di depan kami aja sampai ketawa, heran, plus takjub waktu diceritain apa motif dan tujuan kami ke Bali. Sayang lagi-lagi aku gak sempat nikmatin matahari tenggelam di Kuta gara-gara sampainya kemalaman. Jadi sesampainya di Ubung, kami langsung carter angkot ke kontrakannya kawan yang udah beberapa tahun tinggal di sana.

Berhubung udah malam, capek, gak dapat motor sewaan, akhirnya kami cuman nonton tv (yang selama di KKN-an jadi barang mahal coz posko kami gak ada tv-nya). Besoknya, setelah subuhan kami jalan kaki dengan tujuan pantai Sanur, mau liat matahari terbit. Karena cukup jauh, kami sampai saat hari sudah terang. Itupun gak persis di pantai Sanurnya. Sempat sedih coz kami pikir ketinggalan matahari terbit, baru mau selonjoran kaki di pasir pantai tiba-tiba matahari perlahan naik di ufuk barat. Well, rezeki kami mungkin. Kami pun kegirangan gak jelas kayak gak pernah lihat matahari selama setengah tahun (kayak di kutub aja!).

Setelah puas, kami pun kembali berjalan kaki menelusuri jalanan Sanur. Lagi-lagi kami gak dapat motor sewaan (buat turis domestik rada sulit ya?! Atau kebetulan aja kami gak dapat coz lagi musim turis datang ke Bali?). Kami pun mutusin carter angkot ke Sukowati (tujuan utama tentunya beli bed cover!). Sebenarnya sih belum puas blanja. Berhubung waktu mepet coz kami harus sampai di Banyuwangi sebelum malam, kami pun harus bergegas (apalagi jadwal kami udah molor gara-gara cari motor sewaan dan keasikan blanja di Sukowati ^-^).

Untungnya selama diperjalanan kami ngontak dosen yang ditugasin buat jemput rombongan KKN. So, walau telat-telat dikit kami gak kena marah. Beliau maklum kalau kami minta waktu buat refreshing setelah kerja keras. Alhamdulillah kami selamat selama travelling. Karena pulang-pergi Bali nyebrang gratisan, tidur gratisan di kontrakan kawan, pulang dari Bali kami bawa banyak kresek dengan bawa duit pembagian hasil kerja keras di KKN-an yang terbilang pas-pasn, akhirnya kami istilahkan travelling kami dengan nama wisata kresek. Yach, sedikit di bawah level wisata ala ransel lah ^.^v.

Inilah hidup. Selagi masih bisa buy experience (walau kayaknya susah tuk sekalian ngelepas buy things, hHe...), kenapa gak. Apalagi kalau jarang-jarang bisa dilakuin. Well, kapan lagi yach aku bisa kayak itu?!

Seminar Hasil Penuntasan Wajar Dikdas 9 Tahun di Kabupaten Banyuwangi

Seminar hasil di kecamatan sudah. Sukses pula! Sekarang koordinasi dengan tim KKN Penuntasan Wajar Dikdas 9 Tahun yang bertugas di Kecamatan Wongsorejo d untuk melaksanakan seminar hasil di kabupaten. Rapat antar dua kecamatan ini pun cukup sering diadakan. Kadang di Wogsorejo, kadang di Kalipuro. Kedua tim pun kembali mencari dana untuk keberlangsungan seminar yang menjadi tugas terakhir kami di Kabupaten Banyuwangi ini. Seminarnya sendiri akan dilakukan di pendopo kabupaten, tempat kami diserahterimakan oleh pihak universitas kepada Bupati Banyuwangi untuk melakukan tugas menuntaskan Wajar Dikdas 9 Tahun.

Sempat mengalami beberapa masalah c. Untungnya dosen pembimbing lapangan (DPL) kami turut membantu. Maka terlaksanalah Seminar Hasil Penuntasan Wajar Dikdas 9 Tahun di Kabupaten Banyuwangi yang dilakukan oleh tim KKN Penuntasan Wajar Dikdas 9 Tahun Universitas Negeri Malang...


Mengingat seminar kecamatan kami yang berlangsung cukup ‘panas’, sempat takut juga c kalau seminar kabupaten bakal berlangsung lebih ‘panas’ dan menegangkan. Tapi alhamdulillah ketakutan kami tidak terbukti. Seminar kabupaten berjalan lancar, gak terlalu ‘panas’, dan cukup menyenangkan. Undangan yang datang juga cukup banyak. Camat, lurah, kades, pejabat yang berkepentingan, …. Sayangnya lagi-lagi kami gak berkesempatan bertemu dengan Bupati Banyuwangi (jarang-jarang kan ada bupati perempuan!). Hari itu kehadiran bupati diwakilkan oleh wakil bupati (ajudannya manis loh. Sayang, gak ada satu pun dari kami yang berkesempatan untuk jalan-jalan dengannya. Ngobrol tok!! hHe… ^.^v).

Seminar kabupaten udah, masih ada waktu beberapa hari di Banyuwangi. Ngapain yach sebelum kembali ke Malang?! Rekreasi?! Itu c yang direncakan, baik oleh tim KKN Kalipuro maupun Wongsorejo. Lagi-lagi ada satu tempat yang paling banyak direkomendasikan. BALI!! So close, masa gak kesana?! Masa setiap hari memandangi pulaunya ajah…

Kamis, 19 Februari 2009

Seminar Hasil Penuntasan Wajar Dikdas 9 Tahun di Kecamatan Kalipuro

14 Agustus 2007.
Gak terasa dua bulan sudah kami berada di Kabupaten Banyuwangi. KKN Penuntasan Wajar Dikdas 9 Tahun di Kecamatan Kalipuro segera berakhir. Untungnya walau gak jadi ke Gunung Ijen (hiks!!) aku sudah pergi ke beberapa tempat (dengan mencuri-curi kesempatan tentunya). Kaliklatak, Pulau Santan, Kota Banyuwangi, …, bahkan Bali!!

Tapi, sebelum kembali ke Malang kami harus menyeminarkan hasil dari KKN kami. Ada dua seminar hasil yang harus kami adakan. Seminar kecamatan dan seminar kabupaten (duet dengan tim KKN Penuntasan Wajar Dikdas 9 tahun Kecamatan Wongsorejo).

Seminar kecamatan kami adakan di sebuah hotel yang berada di Desa Ketapang. Kami pergi ke sana numpak pick up (lagi-lagi Mas Epi yang jadi superhero kami, hehe…). Sepanjang perjalanan Mas Epi lagi-lagi tersenyum melihat tingkah polah kami dari pantulan spion. Sekumpulan cewek yang tetap fun walau harus kepanasan di atas pick up. Kami dengan cueknya berfoto-foto, bahkan menyanyikan Mars Wajar Dikdas 9 tahun dan Terima Kasih Guruku yang nanti akan kami nyanyikan juga di pembukaan seminar kecamatan. Well, bagi Mas Epi kami tuh memang cantik, lucu, dan menyenangkan. Untungnya Mas Epi tuh selain muda juga masih single. Jadi gak jarang kami pun suka menggodanya ^_^


Lokasi hotel tempat kami seminar kecamatan keren banget! Berada di tepian Selat Bali yang berwarna hijau-biru. Angin laut mengisi paru-paru dan memberikan kesejukan. Peserta yang ikut pun cukup banyak, terdiri dari undangan (wakil dari kelurahan dan desa yang berada di Kecamatan Kalipuro) serta guru-guru dan masyarakat Kecamatan Kalipuro yang peduli dengan pendidikan di wilayahnya. Walau molor sampai hampir satu jam, alhamdulillah seminar kami yang sempat ‘panas’ berjalan dengan sukses. Masyarakat menyambut antusias kehadiran kami di desa mereka. Mereka pun menyatakan bahwa kehadiran kami membantu mereka mencari solusi mengenai masalah pendidikan di kecamatan Kalipuro.

Senang dan tentu saja bangga meliputi perasaan kami. Gak sia-sia rasanya turun-naik gunung, tidur lesehan, bahkan harus berdebat hebat ketika rapat dengan kawan satu tim KKN, … jika akhirnya kehadiran kami bisa memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi banyak orang. Selesai seminar, gak ada salahnya kan kami santai sejenak menikmati indahnya pemandangan yang ditawarkan Selat Bali?!

Ijen Tinggal Harapan

Ijen tuh bisa dibilang dekat banget sama posko kami. Tambah mupenk waktu kami nonton tv (di rumah Bu Sri, induk semar kami tentunya coz di posko kami gak punya tv), Medina Kamil lagi ber-Jejak Petualang di sana. Melihat kawahnya yang berwarna biru-hijau diselimuti asap belerang, argh… Aku harus kesana!! Itu harapanku waktu itu.

“Aku sering ke sana,” kata Mas Epi saat aku bertanya-tanya soal pendakian ke Ijen. Tapi sayang, Mas Epi lagi gak bisa ngajak kami ke sana. So, waktu orang-orang di desanya Ka Ayun pendataan ngajak kami ke Ijen, kami pun hepi banget!! Walau gak semua dari kami bakal pergi, kami menyambut hari itu dengan penuh suka cita. Biasanya kami tuh masih bermalas-malasan di pagi hari, pas hari yang dijanjikan kami mandi pagi… sekali (biasanya pergi pendataan aja gak pakai mandi, dingin c!!). Kami juga bela-belain masak sepagi mungkin. Tapi…

Satu jam… Dua jam… Yang ditunggu-tunggu kok gak datang-datang?! Membunuh kebosanan kami nyetel film di laptopku. 1 disk abis, lanjut ke disk 2. Disk 2 selesai, tetap gak ada yang menjemput kami. Ka Ayun sampai kesal dan bilang gak akan pamitan sama orang-orang di desanya pendataan (yang menjajiinya pergi ke Ijen). Yang awalnya cuma lepas kaos kaki dan jilbab, satu persatu dari kami akhirnya ganti pakaian.

Sedih dan kesal banget deh!! Ijen, sudah sedekat ini, kapan lagi punya kesempatan ke sana kalau gak sekarang?! Walau aku yang terlihat paling mupenk mau ke Ijen, ternyata Ka Ayun sampai terbawa mimpi dan ngigau pingin menjejakkan kakinya di sana. Ya udah. Gak jadi ke Ijen, paling gak planning kami ke Bali harus terlaksana!!


About Ijen Crater
The magnificent turquoise sulfur, the volcanic crater lake at an elevation of 2883 m above sea level and is surrounded by the volcano’s sheer crater walls, where the focal point for a visit here is spectacular blue green lake inside of the Ijen Crater. By the lake are many streaming fumaroles where sulfur miners collect bright yellow sulfur and carry 60-80 kg loads of it in baskets along a steep trail to Paltuding, down the mountain. Located in Licin Sub District, 45 km form the city of Banyuwangi (Banyuwangi Tourist Map).

Formasi Posko Bawah

Awalnya c posko bawah diperuntukkan buat kostnya cewek, posko atas (rumah dinas camat) buat kostnya cowok. Tapi karena sesuatu dan lain hal, akhirnya posko atas juga difungsikan buat kostnya beberapa cewek. Jadi, sempurnalah formasi cewek-cewek posko bawah yang erornya gak ada matinya… :p


Posko bawah tuh terdiri dari:
Ka Ayun, Bahasa dan Sastra Indonesia 2003 asal Jombang
Mba Erna, Fisika 2003 asal Magetan
Bingar, Fisika 2004 asal Kediri
Vellyn, Fisika 2004 asal Lumajang
Farina, Geografi 2004 asal Banjarmasin
Ariza, Geografi 2004 asal Kediri
Lilik Rosita, Geografi 2004 asal Jombang
Nene, Geografi 2004 asal Blitar
Desy, Sejarah 2004 asal Pelaihari
Heny, Bahasa dan Sastra Indonesia 2004 asal Kediri
Mita, Kimia 2004 asal Banyuwangi
Mba Imei, Administrasi Pendidikan 2003 asal Malang

Ada satu orang lagi c sebenarnya. Tapi beliau ini nomaden. Kadang di posko atas, kadang di posko bawah. Jadi hampir gak dianggap anak posko bawah (hHe, sori ya mba! ^.^v). Beliau ini siapa lagi kalau bukan Mba Vice, Bahasa dan Sastra Indonesia 2003 asal Malang yang merupakan Bu Cam KKN Wajar Dikdas 9 tahun di Kecamatan Kalipuro.

Yang khas dari anak posko bawah adalah…
Walaupun kerjaan numpuk, gak bisa nonton TV, gak dapat jatah libur, sakit gara-gara turun naik gunung buat pendataan dan penggiringan (termasuk gara-gara tidur di lantai selama 2 bulan), atau habis kres sama anak posko atas, mereka tetap ngegilani!! Walaupun suka becanda tapi sungguh-sungguh dalam bekerja. Konyol, eror, dan kompak!!

Satu impian terbesar mereka ketika memilih atau ditempatkan di Banyuwangi apalagi kalau bukan BUDAL NANG MBALI!! Habisnya, masa setiap hari cuma bisa memandang pulaunya tanpa bisa menginjakkan kaki di sana. Gak asik banget kan…

Posko Bawah

Awalnya c kami gak tinggal di posko yang kemudian kami sebut dengan posko bawah ini. Kami ditempatkan di rumah kerabatnya Pak Cam (koordinator kecamatan) yang terletak di Kelurahan Gombeng Sari. Rumahnya enak. Pemiliknya ramah (bahkan sangat ramah sampai kami sering gak enak sendiri), tapi… Letaknya jauh banget dari ibukota kecamatan dan aksesbilitasnya kurang!! Mana dingin banget lagi!! Jadi, akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke daerah yang aksesnya gampang dan dekat dengan ibukota kecamatan.

Turun gunung deh!! Kami kemudian memiliki dua buah posko. Posko atas (buat cowok) yang merupakan rumah dinas camat tapi beliau gak tinggal di sana (dijadikan posko utama) dan posko bawah (buat cewek), terletak gak jauh dari posko cowok.

Well, awalnya c kami gak yakin rumah baru kami itu layak huni. Besar c tapi kosong melompong!! Untungnya kami membawa karpet besar. Setelah dibersihkan (disikat, disapu, di pel), ternyata layak juga. Karpet pun kami gelar dan biar mudah dan ada kebersamaan, kami pun memutuskan untuk tidur bersama di ruang tengah, lesehan!!

Walau gak bawa kasur, bantal, dan guling, untungnya kami bawa selimut atau sarung. Lipatan mukena kami jadikan bantal (sebelum akhirnya kami membeli bantal boneka) dan kadang hamparan sajadah Q jadikan kasur untuk mengurangi rasa dingin. Hampir semua dari kami bahkan membawa boneka kesayangan yang kadang dijadikan bantal atau sekadar untuk dipeluk.


Gimana rasanya tidur di lantai selama beberapa minggu?!

Awalnya satu persatu dari kami jatuh sakit. Penyesuaian mungkin. Soalnya, setelah kami baik-baik aja tuh!! Kadang kami merasakan tidur di kasur juga c (kalau lagi nginap di rumah induk semang di tempat pendataan). Tapi dengan kondisi seperti itulah kami membangun persahabatan. Rumah itu menjadi saksi rapat-rapat yang penuh perdebatan, tugas pendataan dan penggiringan yang gak jarang bikin kami sakit, tetangga yang ngefans dengan salah satu dari cewek KKN-an, seorang psizoprenia yang mengunjungi posko kami pada jam 9 malam, kegilaan kami untuk membunuh kejemuan, termasuk cerita mengenai siapa mengigau apa dikeesokan harinya ^.^v

Jumat, 13 Februari 2009

Kaliklatak Plantation

A working plantation on the slope of Mt. Merapi, at an elevation of 450-850 m above sea level, has peaceful sorrounding. Plantation crops such as nutmeg, pepper, cinnamon, cacao, rubber, and communicate to villagers who work on the plantation as well as viewing coffee and cacao assortment and fermentation processes. Located in Kalipuro Sub District, 17 km from city of Banyuwangi.


Gitu deh promosi tentang Perkebunan Kaliklatak dari Banyuwangi Tourist Map yang kudapat sewaktu berkunjung ke dinas pariwisatanya Kabupaten Banyuwangi. Aku berkesempatan berkunjung ke sana saat 17 Agustus. Mencuri-curi kesempatan c tepatnya coz kalau gak kayak gini gak bakalan lah bisa rekreasi. Kebetulan juga ada yang ngajakin. Aku, Arizza, Lilik, dan Ka Ayun ke Kaliklatak sama cowok” cakep dari desanya Arizza dan Lilik pendataan. Yach, daripada boring di posko n ikutan upacara penurunan bendera di lapangan Kalipuro (Mas Epi tuh dalangnya, hHe… ^.^v).

Jalan menuju ke sana ternyata gak sesulit cerita kawan-kawan, walau kondisinya gak mulus. Berhubung itu hari libur, 17 Agustus pula! Ramai lah Perkebunan Kaliklatak. Banjir orang gitu deh!! Ada yang ikutan lomba 17-an, ada yang pacaran, rekreasi sama keluarga, jualan, atau kayak kami yang refreshing setelah capek bekerja keras (haHaha!!).

Lomba yang diadain banyak banget! Tarik tambang, makan pisang, sepak bola, bakiak, banyak deh!! Kami jadi penonton doank. Seru…!! Sempat bikin aku ingat sama kebun karet milik kakek di kampung coz sekeliling lapangan yang dijadikan lomba tuh kebun karet semua. Sama kawan-kawan padahal pingin banget naik ke atas lagi, di tempat yang ada menaranya dan dari sana tuh bisa melihat Pulau Bali. Tapi, berhubung salah satu motor yang dibawa tuh gak memenuhi persyaratan untuk melakukan perjalanan “off road”, setelah cukup lama menonton lomba-lomba 17-an, turun gunung deh! Kembali ke posko di Kalipuro…

Senin, 10 Desember 2007

Cuap-cuap tentang Kalipunten


Alhamdulillah, akhirnya cerita-ceritaku selama berada di Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi ke posting juga. Padahal udah lama banget, tapi karena sesuatu dan lain hal, jadi gini nih. Gak semuanya sih kuceritain. Gak semua daerah di Kalipuro juga bisa kuceritain coz aku hanya pendataan di Desa Pesucen, walaupun ikut bantu-bantu daerah pendataan kawan lainnya. Kalaupun mau cerita tentang kelurahan/desa lainnya, takut salah aja. Apalagi kalau ngungkap soal data. Kawan-kawanku yang ngumpulin masa aku main copy trus posting aja :) Semoga cerita-ceritaku menarik untuk dibaca kawan-kawan semua. Thx b4 :)

Welcome to Kalipuro bin Kalipunten

(well, Kalipunten itu istilah dari kami aja kok)


Lebih kurang dua bulan, tepatnya 21 Juni-25 Agustus 2007, aku mengikuti KKN Percepatan Penuntasan WAJAR DIKDAS 9 Tahun di Kalipuro, salah satu wilayah kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Sebenarnya sih aku berharap seperti tahun, ada KKN WAJAR yang penempatannya di Papua atau Sumatra (atau Kalimantan :p). Tapi yang paling jauh ternyata Banyuwangi. Ya sudah, berhubung aku gak mau nanggung (milih Pasuruan yang gak jauh-jauh amat dari Malang), akhirnya aku milih Banyuwangi. Karena gak banyak yang milih untuk ditempatkan di Banyuwangi, akupun ditempatkan (dengan tidak terpaksa) di sana.
Awal datang sih lumayan kaget. Kaget karena letaknya ternyata dekat dengan Kota Banyuwangi, ibukota kabupaten. Tapi kok sepi? Benar-benar terasa seperti kampung (well, dekat kota paling gak masih terasa suasana kotanya). Kaget yang berikutnya ternyata walau dekat kota tapi ada juga daerah yang aksesbilitasnya rendah! Kecuali punya motor sendiri tuk bepergian kemana-mana (termasuk punya kuda). Topografinya lumayan kasar juga ditambah sarana prasarana yang minim (angkot ada di daerah “bawah” saja, aspalnya sudah banyak yang hancur bahkan gak berbentuk lagi, kalau jalan desa malah setapak, terjal, dan gak sedikit yang berada di jalur berupa hutan). Kayapa yang dulu KKN di Papua ya?! Kalau tipe-tipenya kayak dusunnya Denias tinggal sih, wow, keren banget... . Tapi Papua gitu, kapan lagi bisa ke sana? Andai tahun ini ada KKN yang ke sana lagi sih aku pasti daftar. Puncak Jayawijaya, Pegunungan Cartenz, Lembah Baliem, Rawa Wasur, Teluk Cendrawasih, atau yang paling keren Kepulauan Raja Ampat! Wah, kapan ya aku bisa ke sana? (gara-gara kebanyakan nonton JP yang ekspedisi di Papua nih!)
Hari itu hujan turun sedari pagi, menyambut kedatangan kami mulai di pendopo kabupaten hingga sore harinya. Karena sesuatu dan lain hal, diskomunikasi dan lain-lain, setelah disambut di pendopo kecamatan, akhirnya kami harus menginap di rumah salah satu murid pondokan abahnya koordinator kecamatan (korcam) kelompokku, di Dusun Lerek, Kelurahan Gombengsari. Alhamdulillah rumahnya besar, orangnya juga baik. Kami sebenarnya betah tinggal di sana andaikan kami KKN cuma di 1 kelurahan/desa. Masalahnya kami KKN untuk 1 kecamatan. Padahal untuk ke sana cukup jauh dari ibukota kecamatan. Kalau hujan jalannya juga cukup sulit, apalagi kami gak bawa kendaraan untuk transportasi kami selama KKN. Besoknya kami cari tempat tinggal baru. Dapat! 1 rumah dinas pak camat (untuk anak cowok) dan 1 rumah kosong (untuk anak cewek) yang sebelum dimasuki harus didandani dulu. Dipel, disapu, ditata. Make over deh! Tapi ternyata layak huni juga tuh :)
Oich, di sini juga akhirnya aku bertemu dengan orang-orang Osing, suku asli Banyuwangi. Yach, walaupun aku gak pernah berkunjung ke ‘Kampung Wisata Osing’ yang katanya merupakan obyek wisata dimana kita bisa melihat kehidupan Suku Osing asli. Di telingaku yang masih banyak gak paham kosakata Bahasa Jawa, gak beda tuh dengan Bahasa Osing. Logat bicaranya aja yang beda. Menurutku sih kayak ada alunan nadanya gitu. Kalau di Banjar kayak Urang Kalua. Kecuali aku lihat/tau kawanku sama aja dunk-dunknya dengarin dia ngomong, nah berarti lagi ngomong pakai Bahasa Osing. Tapi sori, dulu kupikir suku Osing itu +- Badui dalam, ternyata bukan ^.^v. Yach, +- anggapan orang-orang yang mikir kalau Suku Dayak tuh masih pakai ‘koteka’ atau transportasi utama di Kalimantan tuh masih lewat sungai (soalnya aku masih sering ditanya seperti itu).
Selidik punya selidik gak heran kalau Kecamatan Kalipuro terlihat seperti itu (well, gak usah diceritain lagi yach!) karena ternyata daerah KKN kami itu adalah salah satu kecamatan termiskin di Kabupaten Banyuwangi. Kok bisa ya? Padahal bentang alamnya lengkap. Pantai ada, dataran rendah ada, dataran tinggi ada, bahkan gunung pun ada (Ijen gituh!). Tambak ada, hutan dan Perhutani ada, perkebunan ada (contoh: perkebunan Kali Selogiri dan perkebunan Kali Klatak), pelabuhan Ketapang juga punyanya Kalipuro (oich, Ketapang itu ternyata status administrasinya desa. Dulu kupikir Ketapang itu ibukota kecamatannya. Desa Ketapang juga jauh lebih ramai dibandingkan ibukota kecamatannya).
Aku semakin percaya bahwa Kecamatan Kalipuro adalah salah satu kecamatan termiskin di Banyuwangi ketika ikut Mitha, kawan KKN yang berasal dari Kecamatan Genteng, salah satu kecamatan di Banyuwangi, pulang. Kami melewati beberapa Kecamatan (lupa tepatnya berapa kecamatan. Dasar miss pikun!). Yang kuingat kami lewat Kabat dan Rogo Jampi, baru Genteng. Tiga kecamatan ini jauh lebih ramai dan maju dibandingkan dengan Kecamatan Kalipuro. +- Kota Banyuwangi lah. Di sana terdapat ‘pasar besar’, juga ‘mal’, alias plaza. Bahkan, ‘katanya’ Genteng dulu jauh lebih ramai dibadingkan Kota Banyuwangi sendiri. Kapan Kecamatan Kalipuro seperti itu? Berdoa saja semoga saja cepat terjadi. Amin.

Profil Singkat Kecamatan Kalipuro

Kecamatan Kalipuro berjarak 7 Km dari ibu kota Kabupaten Banyuwangi. Secara astronomis berada pada 008o13’LS dan 114o23’BT. Memiliki luas wilayah 610.03 Km­­­­2 dengan ketinggian 116 m di atas permukaan laut. Curah hujan rata Kecamatan Kalipuro adalah 556-767 mm/bln dan 1467 mm/th. Jumlah penduduk berdasarkan data BPS Kecamatan Kalipuro tahun 2006 adalah ­­­68.730 jiwa. Sebagian besar terdiri dari suku Madura, suku Jawa, dan suku Osing. Keadaan geografis Kecamatan Kalipuro berupa dataran tinggi yang merupakan daerah perbukitan yang cenderung dingin dengan lahan pertanian dan lahan kebun/ladang yang subur.
Batas wilayah Kecamatan Kalipuro, yaitu:
- Sebelah utara : Kecamatan Wongsorejo
- Sebelah timur : Selat Bali
- Sebelah selatan : Kecamatan Giri
- Sebelah barat : Kecamatan Licin
Kecamatan Kalipuro terdiri dari 4 kelurahan dan 5 desa, yaitu Kelurahan Kalipuro, Kelurahan Klatak, Kelurahan Bulusan, Kelurahan Gombengsari, Desa Ketapang, Desa Kelir, Desa Pesucen, Desa Telemung, dan Desa Bulusari.
Ada banyak tempat indah di Kecamatan Kalipuro. Pantai-pantai di pesisir Ketapang, Bulusan, dan Klatak yang indah (sayang telat datang waktu lomba perahu layar!). Gunung-gunung dengan perkebunannya (coklat, kopi, dll. Yang menyedihkan kami batal naik Gunung Ijen, hiks (T.T) Oich, kita juga bisa lihat Pulau Bali dari sana. Ada tempat-tempat yang bagus, baik itu di Ketapang ataupun di Telemung. Tapi aku belum sempat lihat Pulau Bali dari tempat itu). Hamparan sawah yang masih luas. Apalagi yach?! Banyak deh! Sayangnya untuk Pesucen sendiri aku belum pernah ke tempat wisatanya. Yang pernah kudatangi hanya Perkebunan Kaliklatak di Kelurahan Gombengsari. Watudodol hanya lewat atau lihat dari jauh saat nyebrang ke Bali :(
Saat kami datang, Kecamatan Kalipuro dipimpin oleh Pak Drs. Abdullah yang kemudian dimutasi menjadi camat di Kota Banyuwangi, digantikan oleh Pak Ir. Tri Wahyudi Ridartowo.
Nb: kalau tanya aku merujuknya dimana, jujur aku lupa nulis daftar pustakanya. Yang ngetik bagian profil kecamatan ini juga sepertinya lupa mencantumkannya. Sebagiannya lagi aku dapatkan informasinya dari pegawai kecamatan, hasil observasi sendiri, dan cerita kawan-kawan.

Tentang Pasar di Kecamatan Kalipuro

Pasar di Kalipuro masih bersifat pasar mingguan. Kalau di Kelurahan Kalipuro setiap Rabu. Kalau di Desa Pesucen setiap Selasa. Kalau di kelurahan/desa lain aku gak tahu . Secara, posko kami di Kelurahan Kalipuro, gak jauh dari pasar. Daerah pendataanku Desa Pesucen, gak jauh juga dari rumah induk semangku (istilah kami untuk keluarga tepat kami nginap selama kami pendataan di kelurahan/desa), selalu kulewati juga tempatnya, makanya tahu. Dan yang akan kuceritain ini juga sebatas yang aku tahu. Kalau ternyata ada yang kurang, terlalu berlebih, atau salah khilaf mohon maaf ^.^v.
Kami semua rada shock juga karena ternyata pasar di dekat posko kami itu berupa pasar kebutuhan sandang! Secara, yang familiar kan yang namanya pasar tradisional (mingguan ataupun harian) pasti banyak yang jualan kebutuhan pangan. Kebutuhan untuk perut itu kan yang utama. Mau yang dijual itu masakan jadi ataupun bahan mentahnya. Tapi ternyata sama seperti sehari-harinya. Hari pasar ataupun gak yang jual bahan pangan hanya dua ‘kios’. Itupun bisa dibilang minimalis bahan-bahan yang disediakannya. Kalau mau belanja besar ya ke pasar di kota. Waktu aku lewat di pasar Pesucen pun ternyata +- juga. Mamaku aja sempat shock waktu kuceritain. Heran, takjub, plus khawatir akan nasib perut anaknya dan anak-anak orang yang senasib seperjuangan denganku. Di sini banyak-banyak shock terapi deh!
Tapi yang benar-benar ulahku shock, takjub, entah apalah istilah tepatnya, waktu aku perawatan gigi. Secara gitu, gigiku ini kan mang bandel abis (coba deh baca blogku yang di frenster). Waktu aku di Kuta tiba-tiba aja aku merasa ada bagian yang pecah dari gigiku (lupa yang mana. Kalau gak salah geraham bawah). Akhirnya aku ke puskesmas yang berada di sampingnya pasar, depannya posko kami. Penasaran juga sih sama prasarana kesehatan (terutama gigi) yang ada di sana. Apa lebih baik dari yang dimiliki poliklinik kampusku atau sebaliknya (well, terbiasa dengan peralatan dokter gigiku yang bagus, mahal, canggih, walau kadang ulah simpanan duit mamaku menipis :"( kadang-kadang aku juga dikasih perawatan gratis. Secara, 13 tahun sudah aku jadi pasien beliau). Ternyata, MG! Lebih parah dari yang aku bayangkan. Tempat ‘operasi’nya hanya berupa kursi kayu yang sandarannya di tambah sandaran busa untuk penyangga kepala (kayak sandarannya kursi creambath di salon gitu). Gak ada bor dengan matanya yang berbagai ukuran, besar-kecil, halus-kasar, apalagi alat yang bisa keluarin sinar berwarna biru (kalau gak ungu coz ku sering susah melihatnya karena aku sedang dalam ‘operasi’) yang sering kubilang ‘sinar X’. Biasanya digunain setelah penambalan gigi itu nah, gak tau aku apa namanya. Jadi penambalan gigiku dilakukan secara manual dan minimalis. Jadinya cukup lama nunggu untuk keringin tambalannya. Ternyata sampai detik aku nulis ini tambalannya masih utuh. Keren! Kata dokternya, kalau gigiku ternyata masih bermasalah aku dirujuk ke poliklinik yang ada di Klatak coz di sana lebih lengkap alatnya (well, ternyata puskesmas yang lebih besar ada di kelurahan lain. Oich, Kelurahan Klatak juga lebih ramai daripada Kelurahan Kalipuro. Salah satu faktor kenapa Kelurahan Klatak, Kelurahan Bulusan, dan Desa Ketapang adalah mereka dilalui lalu lintas antar propinsi. Di Ketapang terdapat pelabuhan penyeberangan antar pulau (Jawa-Bali) dan propinsi pula (Jawa Timur-Bali).
Tapi endingnya cukup berkesan. Aku kan gak pernah berobat di puskesmas. Well, rumah sakit juga, kecuali waktu aku harus rontgen gigi (lagi-lagi gigi) di RS Suaka Insan. Jadi gak ngerti soal kayapa mekanismenya, termasuk biaya rawat dan berobatnya (aku punya askes tapi gak pernah terpakai. Fotonya aja masih foto zaman TK :p Setelah selesai perawatan aku ke tempat yang urusin pendaftaran dan bayarannya. Trus aku ditanya disuruh nebus obat gak? Ku jawab obat tuk nambal gigi aja. Ku tungguin bapaknya nulis kuitansi pembayaran perawatan tapi kenapa beliau kerjain yang lain ya, pikirku. Kutanyain lagi. “Habis ini ngapain lagi, Pak?” kayak orang koplo deh (well, di KKN aku dapat tambahan perbendaharaan Bahasa Jawa yang menarik. Koplo Di telingaku terdengar lucu dan aneh. Awalnya aku bingung apa maksudnya. Ternyata +- dengan dongok alias bodoh. MG!). Kalau gak perawatan lagi berarti sudah. Dengan polosnya aku keluar dari puskesmas. Saat itu aku ditemani Nene. “Ne, aku tadi gak bayar loh. Kalian waktu medical check up, bayar gak?”. Nene jawab “Gak”. Ya gak untuk periksanya, juga untuk obatnya. Ternyata gratis! Tau deh, apa karena kami KKN bin pengabdian di sana atau karena memang gratis?! Ada kan subsidi untuk kesehatan, terutama untuk kaum miskin? Aku lupa cari tau dan tanya mekanisme hal seperti ini sama sahabatku yang anak STIKES :”(

PROFIL DESA PESUCEN


Desa Pesucen adalah desa tempat aku dan rekanku Heny pendataan. Oich, aku belum cerita kalau kami satu kelompok 20 orang. Berhubung kami bertugas di 9 wilayah, jadi satu wilayah ditugaskan 2 orang. Khusus di Kelurahan Kalipuro 4 orang, 2 orang pendataan, 2-nya lagi monitoring. Sebenarnya ada sih cerita mengenai asal muasal Desa Pesucen, tapi tidak aku ketik waktu bikin profil kelurahan/desa di bahan seminar hasil KKN. Fotokopian Profil Desa Pesucen juga gak kubawa, ada di dalam kardus berisi berkas-berkas KKN :( So, seadanya aja yach...
Keadaan Umum Wilayah Desa
Luas Wilayah
Luas total wilayah: 429,23 Ha
Terdiri dari:
- Luas tanah persawahan: 217,36 Ha
- Luas kebun campuran: 95,31 Ha
- Luas tanah perumahan: 41,27 Ha
- Luas tanah lainnya: 75,29 Ha
Batas Wilayah Desa
- Utara: Desa Kelir dan Desa Telemung
- Timur: Desa Kelir dan Desa Grogol
- Selatan: Desa Grogol
- Barat: Desa Bulusari
Letak Geografi dan Topografi
- Tinggi tempat: 350 m
- Curah hujan: 250 mm/th
- Suhu rata-rata: 23oC
- Luas daratan: 389,08 Ha
Orbitasi
Jarak dari pusat pemerintahan:
- Dari kecamatan: 6 Km
- Dari ibukota kabupaten: 10 Km
- Dari ibukota Propinsi: 300 Km
Waktu tempuh dari pusat pemerintahan:
- Dari kecamatan: ¼ jam
- Dari ibukota kabupaten: ½ jam
- Dari ibukota Propinsi: 7 jam
Pembagian Wilayah Desa
Desa Pesucen dipimpin oleh Pak Ma’sum Hasby, terbagi menjadi 3 dusun, 8 RW, dan 22 RT dengan rincian:
- Dusun Krajan terdiri dari 3 RW dan 10 RT. Kepala dusunnya adalah Pak Amri.
- Dusun Padang Baru terdiri dari 2 RW dan 6 RT. Kepala dusunnya adalah Pak Ashari.
- Dusun Bangun Rejo terdiri dari 3 RW dan 6 RT. Kepala dusunnya adalah Pak Abdul Hamid.
Sedikit cerita mengenai Desa Pesucen, waktu pertama aku ke Pesucen, ternyata wilayahnya tidak terlalu jauh dengan ibukota kecamatan, tapi kalau gak punya motor cukup susah, kecuali beruntung bisa ngandol mobil pekap alias pick up. Aku diantar Mad Samis (Mas Samid). Waktu itu kami diberi petunjuk yang gampang untuk menemukan kantor desa. Lewat Kecamatan Giri (jalan yang sebelah kuburan Cina), lurus saja, maka nanti bisa menemukannya. Tapi untuk the first time cukup berat. Shock gitu deh karena jalanannya aspal tapi pecah-pecah. Sepi pula! Tapi benar, lurus saja maka ketemu Desa Pesucen. Lurus saja, terus naik maka akan ketemu Desa Bulusari. Kalau naik terus kalau gak salah sih Perhutani, terus naik-naik ke puncak gunung deh!
Cerita tentang penjelajahan aku dan Heny di Pesucen bisa terbilang lucu, yach walau mungkin cerita kami gak semenegangkan jika berada di Telemung dan Gombengsari, atau mungkin daerah lainnya. Hari pertama kami memulai pendataan disambut dengan hujan. Untungnya Bu Tri, ibu kost kami selama di Pesucen berbaik hati meminjamkan motornya. Setelah hujan cukup reda aku dan Heny berkeliling berbekal peta! Yap, geografi banget... (say it with a map gituh!). Sayangnya petanya tanpa skala, jadi susah menentukan jaraknya. Kami sampai pernah mau ke Bangun Rejo ternyata sudah masuk wilayah Bulusari, mau ke Padang Baru ternyata jalan jauh sampai ke wilayah Kecamatan Giri!
Ada beberapa titik yang cukup ekstrim. Andai gak terlatih bawa motor, terutama bawa motor butut, siap-siaplah mendorong motor anda untuk ’naik-naik ke atas gunung’ atau berbalik arah karena gak berani turun dengan resiko tergelundung, motor rusak, dan badan patah-patah (cukup dihiperbolis sih ini :p Tapi bagi yang gak biasa. Kalau terbiasa sih gak akan kesulitan). Saat mau ke Bangun Rejo untuk pertama kalinya aku dan Heny sempat berbalik arah waktu harus lewat jalan curam, berbatu, dan langsung berkelok tajam. Pernah juga pas mau ke Padang Baru dari daerah Bangun Rejo nemu jalan yang serupa, tapi gak terlalu terjal. Dengan kekuatan ekstra dan alunan do’a aku memberanikan diri lewat, membawa motor dengan perlahan, tapi Heny harus turun, jalan kaki menuruni jalan itu ^.^v. Untung remnya makan. Andai kejadiannya kayak waktu di bulusan, dipinjami motor yang rem tangan dan kakinya blong, badanku mungkin sudah patah-patah akibat menggelundung. Cukup baju baruku robek dengan bonus punggungku lecet. Nyerah aku kalau harus pakai motor tanpa rem lagi, spionnya di kiri pula!! Padahal ternyata ada jalan yang lebih gampang. padahal rumah Pak Kades yang di hari pertama aku datangi itu ternyata sudah masuk dusun Bangun rejo. Duh!
Waktu ke Krajan RT.1 RW.3 mendatangi Siti Maryam, anak yang mau kugiring (tapi ternyata dia tuh muridnya SMP Terbuka Pesucen), untungnya aku lagi gak sama Heny, tapi Taufik (cowok yang tentunya lebih tangguh dan lihai bawa motor dibandingkan kami) karena ternyata untuk mendatangi rumahnya kami harus lewati jurang dan sawah-sawah dulu (katanya sih ada jalan lain, tapi muter lewat desa sebelah). Tegang, nakutin, tapi seru juga! Jalannya berlumut lagi, licin gitu deh jadinya. Daripada kenapa-kenap aku milih turun dari motor dan ngos-ngosan naik turun jurang itu. Tapi walaupun gak ketemu sama Siti Maryam yang ternyata tinggal di rumah mbaknya, jadi hanya ngobrol sama ibunya (itupun aku hanya jadi pendengar coz si ibu ngomong pakai Bahasa Osing), pemandangan di daerah sana cantik banget. Apalagi saat itu sedang panen padi. Sayang aku gak bisa ngabadiin coz baterai kameraku habis :"(
Tapi alhamdulillah beberapa ruas jalan di Dusun Padang Baru dan Bangun Rejo diperbaiki dan di aspal lagi. Aksesbilitas di sana pun jadi lebih nyaman, apalagi dengan pemandangannya yang indah, terutama jika dari Desa Kelir mau ke Desa Pesucen, dari Dusun Krajan ke Dusun Bangun Rejo, atau daerah Dusun Krajan yang lewat jurang itu. Sayangnya selama di Pesucen masih ada beberapa tempat yang belum aku dan Heny jelajahi akibat keterbatasan sarana prasarana penunjang kegiatan KKN kami :). Semoga kapan-kapan aku bisa berkunjung lagi ke sana. Kalaupun nggak, semoga aku bisa berkunjung ke daerah lain dengan cerita yang gak kalah serunya. Seperti kata Ibn Battuta (yang kucontek dari novel Travelers’ Tale Belok Kanak: Barcelona!), Traveling- it leaves you speechless, then turns you into a storyteller. Traveling- gives you home in thousand strange places, then leaves you a stranger in your own land. Traveling- it offers you a hundred of roads to adventure and gives you heart wings!

About Skul at Pesucen

Di Desa Pesucen terdapat 3 buah SD dan 1 MI, yaitu SDN 1 Pesucen, SDN 2 Pesucen, SDN 3 Pesucen, dan MI Darul Falah 1, serta 1 buah SMP Terbuka yang gedungnya menumpang di salah satu kelas dari SDN 1 Pesucen.
Ketika aku dan Heny ke SDN 3 Pesucen untuk pertama kalinya, lagi-lagi kami shock! Bangunannya hanya beberapa kelas yang masih baik. Jumlah muridnya pun saat itu hanya 26 anak. 12 anak di kelas 1, 4 anak di kelas 3, dan 10 anak di kelas 5! Jujur, aku sendiri juga pernah merasakan berada di kelas yang jumlah muridnya 8 anak, di ibukota propinsi lagi! Tapi tetap aja aku shock. Alhamdulillah, saat tahun ajaran baru (2007/2008) jumlah siswanya bertambah. Dari pendataan kami yang terakhir jumlahnya 33 anak, 7 anak yang baru masuk itu adalah murid kelas 1. Kata guru-guru di sana itu bisa saja bertambah lagi karena di sana walaupun tahun ajaran baru sudah berjalan 1 minggu bahkan 1 bulan ada saja nanti orang tua yang baru mendaftarkan anaknya. Lucunya, saat itu juga ada anak kelas satu yang oleh orangtuanya di sekolahkan di sana tanpa disertai data siswa sama sekali. Mau minta kelengkapan untuk data siswanya saja juga susah karena ternyata hari gini masih banyak orangtua yang gak ingat kapan anaknya lahir, apalagi membuatkan akta kelahirannya. Belum lagi saat mendaftarkan si anak, si orangtua sembari mau pergi ke sawah. Ckckck, jadi guru di pedesaan memang benar-benar pengabdian (termasuk persoalan yang menyangkut kesejahteraan guru-gurunya juga). Kalau gak, mana mungkin banyak guru yang gak mau di tempatkan di daerah seperti itu (pedesaan-pedalaman).
Aku sendiri juga mungkin mikir-mikir jadi guru di desa apalagi di pedalaman. Pertama, karena aku terbiasa hidup di lingkungan (kota) yang sarana prasarana dan aksesbilitasnya bagus. Kedua, dengan tingkat kesejahteraan guru yang masih minim (semoga hal itu akan segera berakhir, amin), aku juga harus mikirin perut dan segala keperluan keluargaku (ketika aku sudah berkeluarga tentunya), kalau bisa ditempatkan di daerah yang bagus fasilitas dan aksesbilitasnya, kenapa nggak. Walaupun itu sangat egois. Tapi itu juga yang dilakukan ortuku. Mereka tetap bertahan di Banjarmasin padahal jika abahku mau ditempatkan di lokasi mungkin kesejahteraan keluargaku bisa lebih terangkat karena kesempatan untuk mendapatkan posisi yang bagus juga lebih besar dan cepat. Di samping sampingannya juga ada, misalnya bertani (baik farmer ataupun peasant)  Tapi, tanpa anak-anaknya bisa mendapatkan fasilitas pendidikan yang bagus, apalah gunanya banyak duit!
Situasi di SMP Terbukanya pun bagiku cukup mengenaskan. Entah kenapa, walaupun di sana hanya ada SMP itu tapi banyak warganya yang gak tau. Anak usia SMP-nya pun lebih memilih bersekolah di luar Pesucen atau luar Kecamatan Kalipuro. Padahal, jika sekolah itu diberdayakan kan lumayan untuk dikembangkan menjadi sekolah beneran (terpisah dari induknya alias gak SMP Terbuka lagi). Contoh, SMPN 2 Kalipuro di Telemung (SMP Terbuka Telemung) yang sekarang sudah berubah status menjadi SMPN 3 Kalipuro. Dulunya sama-sama anak dari SMPN 2 Kalipuro. Padahal Telemung itu desa termiskin di Kalipuro (salah satu desa termiskin juga di Banyuwangi). Minimal kayak SMP Terbuka Pekarangan di Desa Kelir yang juga anak dari SMPN 2 Kalipurolah yang jumlah muridnya lumayan (31 anak pada tahun ajaran 2007/2008, 29 anak pada tahun ajaran 2006/2007), padahal di sana terdapat Mts Daruttarbiyah yang menjadi pesaing besar mereka (117 anak pada tahun ajaran 2007/2008, 97 anak pada tahun ajaran 2006/2007) dalam mendapatkan siswa.
Oh ya, aku belum menceritakan berapa jumlah siswa dan bagaimana kegiatan belajar mengajar (KBM) di SMP Terbuka Pesucen. Jumlahnya hanya 8 orang. Itupun beberapa anak hanya masuk ketika ujian semesteran tiba. Guru pamongnya hanya 1 (dulu 2. Tapi karena jumlah siswanya semakin berkurang jadi sekarang hanya 1). KBM-nya pun hanya berlangsung setiap Kamis-Sabtu siang (aku lupa berapa jam KBM-nya) dengan berbagai keterbatasan (termasuk seragam sekolah). Siswanya pun termasuk anak-anak yang ”bermasalah”. Menurut cerita Bu Titis, guru pamong SMP Terbuka Pesucen itu, ada yang harus dipanggil atau didatangi ke rumah, ke tempat main, atau ke tempat dia ngembalain kambing/ngarit dulu baru mau sekolah, ada juga yang bekerja demi menghidupi dirinya dan keluarga sehingga ketika ujian dia baru datang (salah satunya Siti Maryam, yang rumahnya di RT.1 RW.3 Krajan, yang lewat jurang dekat sawah). Pernah juga (waktu masih jadi anak SMPN 1 Giri), saat ujian kepseknya datang ke rumah salah satu anak, pagi-pagi sekali untuk menjemput muridnya itu. Supaya gak malu juga saat ikut ujian di sekolah/SMP induk, muri-murid itu juga di kasih seragam, sepatu, bahkan ongkos biar mereka bersedia mengikuti ujian. Sayangnya, karena keterbatasan prasarana penunjang kegiatan KKN kami, aku dan Heny gak sempat melihat KBM sekolah tersebut, jadi aku gak bisa cerita lebih banyak.
Anak-anak giringku di Pesucen memang gak ada yang menarik jika dibandingkan dengan anak-anak giring desa/kelurahan lainnya di Kecamatan Kalipuro. Ada kakak-adik (keduanya cowok) yang sudah bertahun-tahun gak sekolah karena takut digangguin sama kawannya lah (padahal anaknya gagah, gak tipe anak lemah/pengecut gitu deh). Tapi dari apa yang kami tangkap kayaknya bapaknya yang gak mau nyekolahin. Padahal dilihat dari penampilan bapaknya cukup perlente. Rumah mereka pun bukan gubuk derita kayak rumah salah satu anak giringku yang gak mau sekolah lantaran ortunya gak bisa ngasih uang jajan sebanyak yang dia minta. Tapi alhamdulillah, Taufik Hidayat (14th, nama si anak yang mau ekolah kalau dikasih jajan sesuai keinginannya itu) akhirnya mau sekolah walapun di pesantren, setelah lebaran (semoga di ponpes salafiah). Ada juga si Nasriyah (14th), anak Dusun Padang Baru yang selulusnya dari MI bekerja (alias gak melanjutkan). Katanya sih bekerja di walet (sama kayak Siti Maryam). Waktu pertama kami datangi dia bilang dia mau sekolah (saat itu kami tawari sekolah di SMP Terbuka, jadi dia masih tetap bisa kerja), ortunya juga gak keberatan kalau dia sekolah. Tapi sayangnya ketika kami datangi lagi untuk membawanya ke sekolah, dia bilang gak mau dengan alasan takut dipecat sama bosnya.
Dari ceritanya sih ada banyak anak-anak seusianya yang bekerja di sana alias gak melanjutkan sekolah. Aku sampai kesal banget karenanya. Kenapa sih mereka lebih milih jadi buruh, apalagi di daerah yang biaya pendidikannya gratis? Kenapa sih anak sekecil mereka dijadikan buruh?! Oich, berapa sih usia minimal tenaga kerja di Indonesia? (Ops, kemana aja yach aku sampai gak tau? Ngapain aja yach aku di kelas demografi sampai gak ngerti?! Sutralah ^.^v)